Kamis, 03 Agustus 2023

Perempuan itu Bersembunyi di Bilik Kamar Mandi Paling Barat

Lokasi dirahasiakan, waktu : Tahun 2012



Catatan 1       : November 2012

Ini adalah jurnal keempat yang saya publikasikan secara utuh untuk dibagikan kepada banyak orang. Waktu itu matahari belum sepenuhnya naik diatas kepala, hari jum’at jadi kami mengenakan seragam pramuka dan diwajibkan mengikuti kegiatan kerja bakti di sekolah. Tidak ada pelajaran apapun hari itu, kami semua bebas dari kurungan. Kami hanya harus membersihkan uang kelas lalu bisa pulang pukul 10.00 WIB nanti. Beberapa kelas yang sudah menyelesaikan tugasnya kebanyakan pergi ke kantin sekolah atau bermain voli di lapangan tengah, hari itu menyenangkan, tidak ada sedikitpun kesepian yang saya alami. 


Saya menyukai suara yang bersahut-sahutan dibandingkan dengan kesunyian yang perlahan-lahan menelan saya dalam kegelapan. Saya menyadari selimut kabut hitam yang menyelimuti langit cerah di sekeliling rumah saya sampai batas dusun. Angin sore yang berhembus hangat dan sinar matahari senja yang semerah darah tak mampu menyingkap kabutnya sampai mata saya pedih jika berusaha merobeknya jadi butiran-butiran udara.


Kelas saya kosong, beberapa diantaranya mengumpul di kelas yang lain atau sekadar duduk di lantai depan kelas. Mereka berkomunikasi, tertawa, dan saling menanggapi satu sama lain. Saya akan duduk di pojok, memperhatikan semuanya, merangkum semuanya dan mempelajari bagaimana mereka bersikap dan berekspresi lalu melakukannya sama persis.


Sama persis seperti yang mereka lakukan satu sama lain, saya menirunya sama persis


Saya akan menikmati waktu-waktu dimana dunia berjalan dengan normal, bersama seiring dengan langkah kaki saya yang terkadang melambat.

Saya akan menikmati waktu sebelum saya kembali ditelan dimensi ruang dan waktu yang membingungkan seperti kabut hitam di langit rumah saya. Saya akan berusaha keras tetap berpijak pada kenyataan, sebelum terombang-ambing dalam ruang hampa tanpa jalan keluar. Saya akan terus bertahan sampai suara riuh di sekeliling saya perlahan menghilang, tergantikan menjadi suara seret langkah kaki yang bergerak mendekat.


Saya terkejut, salah seorang teman saya tertawa sambil memukul lengan saya.


Waktu singkat dan tepat, saya ditarik kembali ke dimensi ruang paling aman.

Suaranya menghilang, dalam sepersekian detik, saya merasa berterima kasih pada teman saya yang kini mengajak saya pergi ke kamar mandi di belakang gedung laboratorium IPA. Dia mengatakan kalau dia takut setelah mendengarkan cerita mengerikan disana yang tentu saja hanya hasil karangan konyol murid-murid sekolah menengah.


Saya tidak mendengar apapun soal ceritanya, mungkinkah mereka mendengarkannya saat aku sedang menghilang?


Apakah saya menghilang cukup lama?


Saya hanya mendengar 3-4 kali langkah itu diseret mendekat, tidak cukup lama sampai saya harus meninggalkan obrolan tersebut.



“Katanya disini ada setannya, tungguin aku di depan kamar mandi ya. Jangan jauh-jauh, aku takut...”



Saya mengangguk, ia menyeret saya ke tengah lorong kamar mandi yang saling berhadapan dengan kamar mandi putra. Jangan diharapkan sekolah saya berada di tengah-tengah kota yang kesemua bangunannya saling berkaitan satu sama lain.

Toilet ini berdiri sendiri, kalau saya pergi keluar lorong saya akan menemui satu bak besar tampungan air hujan dari semen dan di bagian utaranya ada tebing gunung kapur yang tinggi. Beberapa detail latar ceritanya tidak sama, saya menuliskan sesuatu yang sedikit berbeda dari kenyataan yang ada.


Teman saya lama, saat saya kembali ke dalam lorong saya lupa dia berada di bilik sebelah mana. Ada dua bilik yang tertutup rapat, bagian paling barat dan satu bilik di bagian tengah. Ada suara air di bilik paling barat, pasti dia sudah selesai, saya akan berpura-pura menunggunya di depan, supaya dia tidak marah dan merajuk.



“Sudah selesai? Kenapa tidak keluar?”



Saya bertanya sambil mengetuk pintu yang kini terbuka dengan mudah, seperti ia tak pernah benar-benar menguncinya. Saya sudah bersiap menegurnya untuk tak lagi melakukan hal itu, anak laki-laki SMP kami sangat nakal dan menyeramkan, ia bisa menjadi sasaran untuk diganggu.





Tetapi, saya tidak menemukannya. 



Teman saya tidak menggunakan bilik paling barat.

Teman saya menggunakan bilik nomor tiga.

Seseorang yang bersembunyi disana menatap saya sambil tersenyum hingga bibirnya robek dan mengalirkan darah kehitaman yang menetes-netes ke lantai kamar mandi.



Ia mengatakan “Ketemu! Ketemu!! Ketemu!!!” berkali-kali seperti mantra mengerikan yang mendorong saya sampai jatuh terduduk menabrak pintu bilik paling barat kamar mandi laki-laki yang kosong.


Dia wanita yang bersembunyi dalam kegelapan seperti lembayung kain hitam yang penuh debu. Darahnya berwana hitam dan mengental, mengalir di bawah rumbaian bayang-bayang yang menyembunyikan kakinya hingga menggenang di bawah tubuh saya. Seluruh tubuh saya gemetar ketakutan, ia menjatuhkan tubuhnya tepat di kaki saya sepersekian detik kemudian tanpa aba-aba, saya berteriak lebih keras dibandingkan kekehannya yang meneteskan liur juga darah yang bercampur.




“Ketemu! Ketemu! Ketemu!!! Aku mau kakimu!!!!”



“Kekkekkekekkkkkeee ... Kaki! Aku mau kakimu!!!!!”



“Ketemu! Aku mau kakimu!!!”





Saya berusaha menendangnya menjauh meskipun ia mencengkeram saya lebih kuat, gelombang darahnya mengental dan bau karbol kamar mandi semakin menyengat. Saya ingin berlari, tetapi ia kembali merapalkan mantra dan kekehan yang memuakkan. Saya ketakutan, saya ingin kembali berlari ke dimensi aman saya tanpa membawanya.

Saya ingin dia menghilang dan terbakar bersama debu, tenggelam dalam cairannya sendiri dan tidak lagi muncul dalam hidup saya selama-lamanya.



Hilang.

Saya kembali.




Kedua kaki saya penuh goresan kuku panjang dan terasa perih. Bilik kamar mandi paling barat itu kosong saat terbuka, bau karbolnya masih menyengat. Saya menyeret kaki saya karena entah kenapa telapaknya perih dan basah ke bilik nomor tiga bersamaan dengan teman saya yang keluar dari dalamnya.

Dia tersenyum dan merangkul lengan atas saya, “Makasih ya udah nemenin aku, tadi aku lama banget ya? Maafin ya Paaa ... ya?”

Saya mengangguk.


Kami kembali ke kelas, dengan saya yang masih menyeret langkah kaki saya tanpa sekali pun menengokkan kepala ke arah bilik paling barat. Mungkin saja dia kembali bersembunyi disana, menunggu orang lain menemukannya. Dia akan merapalkan mantra yang sama, merebut kaki-kaki siswa yang tak sadar bagaimana mereka bisa menyeret perempuan yang kini bersembunyi dalam bayangan.



Kaki saya sembuh dalam beberapa hari, ternyata ada luka gores di bagian telapak kaki yang cukup dalam, saya menyembunyikannya dari ibu saya. Tak lama saya kembali bertemu dengannya sedang memegang salah satu kaki teman sekelas saya yang baru saja patah tulang.


Dia kembali terkekeh dan menyapa saya sambil merapalkan kata, “Ketemu!”



Kami kembali saling bersembunyi untuk waktu yang lama dan saya tidak pernah lagi ingin bertemu dengannya. Sampai hari ini saya tidak tahu dia kembali bersembunyi dimana, saya tak lagi menemukannya di dimensi manapun.

Jika saya melihat bangunan toilet tua itu dari jalanan, ia tak pernah menunjukkan dirinya keluar dari bilik paling barat atau mungkin dia sudah pergi entah kemana.



Lagipula sepertinya dia memahami kesepakatan kami terakhir kali.


Kami tidak boleh saling menemukan lagi.

 

Keterangan    : Jurnal IV, Eskpedisi Merah, Tahun 2012

Publikasi        : 03 Agustus 2023

Selasa, 01 Agustus 2023

Nona itu Menggunakan Gaun Berwarna Jingga

Lokasi dirahasiakan, waktu : Tahun 2017



Catatan 1 : April 2017


Siang itu membosankan, saya berkali-kali meletakkan kepala diatas meja tanpa berniat memperhatikan pelajaran.


Pukul 10.00 WIB, masih terlalu pagi untuk mengantuk dan memilih memejamkan mata barang sejenak. Saya tidak sendiri, pelajaran ini membosankan, guru itu bolak-balik menulis ayat dan artinya di papan tulis lalu mulai berkhotbah. Saat saya mengangkat kepala, ada beberapa kepala lain yang beristirahat di atas mejanya masing-masing, tidak terkecuali teman sebangku saya yang sudah hilang ditelan alam mimpi sejak kelas ini dimulai.


Beberapa yang lain mengangkat kepala, menatap dan memperhatikan dengan serius papan tulis penuh coretan itu. Pada bagian yang lain di papan tulis masih ada rumus kimia yang belum di hapus, guru itu memilih berkali-kali menggunakan sisi barat papan tulis untuk menulis. Mengabaikan rumus kimia di sebelah timur, ia bertumpu di sudut meja guru dan mendongeng.


Ini kajian yang disampaikannya minggu lalu sewaktu saya mengikuti kajian rutin ekstrakurikuler Remaja Masjid, persis, tidak ada yang beda.

 

Saya tidak lagi menaruh atensi padanya, meminjam catatan menjelang ulangan jauh lebih mudah dibandingkan dengan mendengarkan ceramah yang sama berkali-kali. Saya menatap ke setiap sudut ruang kelas, berhenti pada kaca kecil tempat serbet digantung dekat wastafel di dalam ruang kelas. Saya tidak terkejut, ini terlalu biasa sejak saya mulai menyadari saya bisa melihat mereka sehari-hari. Ia terlihat lebih nyata dibandingkan dengan seluruh manusia di ruangan ini, duduk dengan tenang, seperti bayang-bayang rapuh yang bisa saja langsung menghilang.


Kursinya tidak kosong, disana ada salah satu teman sekelas saya yang tertidur pulas di kursi yang sama dengannya. Gadis pucat dengan rambut pirang dikepang samping itu terlihat berantakan, gaunnya berwarna jingga cerah dengan bercak darah dimana-mana, sudut pelipisnya terluka dan kelopak matanya mengelupas. Saya mengerjap berkali-kali dan ia tidak hilang dari kaca, saya menatap kenyataannya dan ia tak juga menghilang selama beberapa menit kemudian. Saya kehilangan konsentrasi pada menit-menit berikutnya karena tersedot dalam dunia yang hanya menampilkan kami berdua dari sudut pandang manapun, saya bahkan tak lagi mendengarkan suara guru atau keluhan lirih teman-teman sekelas.

 


Hanya ada kami.

 


Dia, gadis itu menatap saya di cermin dan mengulas senyuman.

Tulang pipinya menonjol tinggi, dia cantik sebenarnya, tetapi saya tidak tahu harus beraksi seperti apa saat saya menatapnya secara langsung ia sudah berada di depan wajah saya. Wajahnya yang tirus dan panjang mengulas senyuman paling mengerikan yang pernah saya lihat sampai hari. Ia berteriak dengan nyaring tepat di depan wajah saya, tetapi kedua lubang telinganya yang berdarah, matanya melotot nyaris keluar dan tulang pipinya semakin menonjol.

Dia hendak meraih wajah saya dengan kukunya yang hampir lepas, saya ingin melepaskan diri dari dunia ini. Dunia dimana hanya ada kami di kelas pagi, saling menatap dan saya sepenuhnya berada dalam kuasanya.


Saya memejamkan mata kuat-kuat dan tak lama setelahnya saya terjatuh dari kursi karena terkejut saat teman sekelas saya berteriak lebih nyaring, daripada-nya.


Tidak hanya satu atau dua orang siswa yang terkejut, beberapa siswa di sekitar bangku kami berlari menjauh dan guru kami mendekat untuk menenangkan teman sebangku saya yang masih memekik. Saya tertegun, menengokkan kepala kesan-kemari untuk mencari perempuan itu, perempuan bergaun jingga yang nyaris menyentuh wajah saya dengan tangannya.

 


Tidak ada.


 

Perempuan itu tidak ada dimana-mana.

 


Saya masih tertegun di lantai saat keriuhan itu terjadi di pojok kelas, teman sebangku saya masih kesurupan dan berteriak dengan nyaring, mengundang atensi dari setiap sudut. Ia baru tenang setelah beberapa menit, saya dibantu bangun oleh teman yang lain. Saya melihat teman saya dibawa ke UKS setelahnya, tetapi perempuan itu tidak ada sisanya dimana-mana.

 


Dia menghilang.


sampai hari ini, saya tidak berhasil berkomunikasi dengannya satu kali pun setelah peristiwa hari itu.

 

Keterangan      : Jurnal III, Ekspedisi Merah, 2017

Publikasi          : 01 Agustus 2023

Kamis, 27 Juli 2023

Jendela dekat Lemari di Kamar Ibu

 Lokasi dirahasiakan, waktu : tahun 2008





Catatan 1 : Juli 2023


Ini adalah jurnal kedua yang saya publikasikan secara utuh untuk dibagikan kepada banyak orang. Waktu itu saya masih berusia kurang lebih 8 tahun dengan ingatan yang samar-samar saya tulis kembali di usia 23 tahun. Saya tidak menyukai kamar ibu saya, terutama ketika ranjang berkelambu kami masih diletakkan di timur jendela kecil yang berdebu itu. Jendela kaca berukuran kurang dari 1 x 1 m itu jarang dibuka, sangat jarang dibuka sampai engselnya mengelupas dan berkarat.


Di dekatnya ada meja kayu reot tempat ibu meletakkan kosmetik, sisir, kaca kecil antik berbentuk persegi panjang, dan setumpuk buku partai kecil yang mirip sampah. Mungkin itu cara kampanye waktu itu, kami memiliki buku kecil berisi nama-nama caleg itu berserakan dimana-mana. Di bawah meja ada rak kecil tempat meletakkan sepatu kami, di sebelahnya ada lemari tua dengan dua pintu yang masing-masingnya berhias kaca berukuran 60 x 40 cm.


Saya tidak menyukai ruangan ini.


Saya memilih tidur di kamar yang lain sejak kecil, entah di usia berapa saya mulai tidak menyukainya. Kamar ini terang, tidak se-gelap kamar kakek dan nenek saya. Apalagi jika gorden jendela itu dibuka, lebih terang lagi, dan saya tidak menyukainya. Setiap habis mandi sore saya sering memilih diam berdiri di sana, menatap ke luar jendela yang melukiskan pemandangan senja berwarna semerah darah.

Jendela itu, pernah menunjukkan sesuatu yang sampai hari ini masih saya ingat. Waktu itu siang hari, saya mempunyai jadwal tetap untuk tidur siang dan ditinggalkan sendirian. Di kamar itu, bersembunyi di dalam kelambu berwarna merah muda pucat sambil pura-pura menutup mata mengelabui ibu. Setelah ibu pergi, mata saya terbuka, saya merogoh ke bawah bantal tempat menyembunyikan lembaran majalah tua yang  saya dapatkan dari dalam bilik lemari usang di kamar ibu.


Saya suka membaca, tidak ada yang bisa mendistraksi kegiatan saya, kecuali, satu.


Hari itu, musim kemarau, sekitar bulan Agustus, di tanggal yang tidak lagi saya ingat. Angin musim kering melewati celah-celah lubang angin yang menyingkap gorden jendela. Saya melihatnya disana, nenek tua itu berdiri di luar jendela. Itu bukan nenek saya, satu kali pun seumur hidup saya, nenek tidak pernah mengurai rambutnya yang berombak itu. Saya mungkin salah melihatnya sampai jendela itu diketuk dari luar, saya tidak mau melihatnya.


Sejauh yang saya tahu sampai saat ini, suara ketukan yang berasal dari ruang yang berseberangan dengan kita adalah sinyal. Suara ketukan ritmis itu menarik saya dari kenyataan seperti mimpi di siang hari, saya melupakan apa yang saya baca sebelumnya. Ini menarik, tetapi menakutkan, bahkan di siang hari, jendela itu mengirimkan teror untuk pertama kalinya yang dapat saya ingat.


Suaranya hilang, saya melompat dari ranjang yang tinggi itu untuk mengintip. Berharap menemukan sesuatu yang menarik, sesuatu yang menyebabkan jantung saya berdetak lebih cepat daripada saat ini.


Dia, masih disana.


Menatap ke arah selatan, rambutnya putih berkilau karena minyak dan tergerai lurus entah seberapa. Saya hanya mampu melihat kepalanya, baunya seperti minyak rambut lama yang sering dipakai nenek saya, sangat menyengat. Tak lama kemudian tercium bau minyak tanah pekat, bersama dengan hembusan angin yang menerbangkan gorden jendela.

Saya masih menatap kepalanya, anginnya berhenti dan gorden itu menutup jendela. Saya merasa kaki saya ditepuk dua kali, ada tangan kurus dingin yang mencekal pergelangannya. Saya terkejut sampai nyaris berteriak, sebelum terbangun. Semuanya seperti mimpi, saya melihat ibu saya sedang tersenyum, mengatakan saya harus bangun untuk mandi sore.


Saya kebingungan, semuanya lebih terasa seperti realita jika dinyatakan sebagai mimpi. Semuanya terproyeksi sampai angin sore yang berhembus menerbangkan gorden jendela masih membawa bau yang sama. Bau minyak rambut milik nenek dengan aroma minyak tanah dan kayu bakar yang menyengat. Saya tidak menyukainya.


Ini jurnal kedua yang menceritakan pengalaman misteri saya di bawah usia 10 tahun.


Saat saya masih belum benar-benar memisahkan realita dan fatamorgana.

Saat saya masih bisa mengenal mereka yang mengintip dari pintu kamar, meminta saya buru-buru mandi sebelum ibu marah. Daripada takut ibu marah, mungkin mereka jauh lebih takut tak bisa buru-buru menonton televisi.


Keterangan    : Jurnal II, Ekspedisi Merah, 2008

Publikasi        : 27 Juli 2023

Senin, 20 Desember 2021

Sebatas Terbiasa

 



“Heh, nyontek referensi laporan praktikummu dong! Sumpah, nggak mudeng aku!”


Aku mengangkat kepala begitu mendengar suaranya bergema. Ia berdiri di depanku dengan kedua tangan bertumpu di meja kayu. Tubuhnya yang condong ke depan membuatku menundukkan kepala dalam-dalam dan memilih kembali menulis pembahasan hasil praktikum. Lagipula memang bukan aku yang ia tanya. Bukan aku lagi yang dibutuhkannya. Bukan aku yang terlihat di matanya,


“Aku belum buat, Za. Jangan gangguin dong, tanya yang lain saja sana lho!” usir sahabatku yang kini menatapnya kesal. Dia berdecak sambil mengumpat lalu meninggalkan kami tanpa bicara sepatah katapun. Melihatku saja rasanya tidak sudi, apalagi bicara. Aku mengulas senyum miris pada diriku sendiri saat melihatnya kembali merengek meminta referensi pembahasan pada sekelompok temanku yang lain.


Padahal dulu, dulu sekali, sebelum ia menghapuskan keberadaanku. Ia begitu dekat denganku. Ia begitu bergantung padaku. Ia membuatku benar-benar diinginkan dan dianggap sekadar “ada”. Tidak sekali atau dua kali ia akan meminta catatanku sebelum ujian, meminjam buku referensi yang kurekomendasikan atau sekadar berkeliling perpustakaan setiap seminggu sekali bersama.


Jika ada aku, maka ada dia.

Terdengar klise tapi memang begitu adanya. Sesuatu yang sederhana dan membuatku terbiasa. Terbiasa bersamanya. Terbiasa mendengar celetukan ngawurnya ditengah mata kuliah. Terbiasa melihat aksi-aksi ajaibnya yang terkesan usil dan jahil. Terbiasa melihatnya menungguku selesai praktikum untuk pergi mencari referensi bersama. Semua tentangnya membuatku “terlalu terbiasa” dan tak terima ketika tiba-tiba ia menjauh dan menjadi acuh.


Mengapa dia tiba-tiba memilih untuk tak lagi bicara padaku?

Mengapa ia seolah membuat hubungannya denganku bagai air dan api yang tak pernah menjadi senyawa?


Padahal tanpa bicara, harusnya ia sudah tahu bahwa aku dan dia sudah terlalu terbiasa bersama dan canggung ketika tiba-tiba berpisah. Untuk tiba-tiba tak lagi saling mengenal, layaknya orang asing yang tak sengaja bertemu di lampu merah Malioboro.


Jika bisa bertanya, aku hanya ingin tahu alasannya. Aku ingin tahu, mengapa lama-lama kami bagaikan timur dan barat yang tak pernah searah? Mengapa kami menjadi begitu berbeda dan tak lagi sama? Arah, pandangan, pemikiran bahkan obrolan sambil lalu pun tak lagi sejalur. Ia dan aku bukan lagi jiwa yang separuhnya diikat benang merah sebuah mitos cinta. Kami tidak lebih dari dua insan yang kehilangan rasa dan bergelut dengan praduga. Berakhir pada sebuah kesalahpahaman yang awalnya saja tak kutahu berasal darimana.


Apa aku pernah menyakiti hatinya?


Apa aku pernah salah bicara padanya?


Apa aku pernah mengecewakannya?


Apa aku pernah menolak rengekannya soal referensi praktikum?


Sumpah, seingatku tidak pernah!



Tapi ia tetap terbungkam dan seolah memaksaku untuk mengaku kalah dan salah. Tapi tak apa, aku terima. Setidaknya, aku berharap ia tak lagi mengibarkan bendera perang padaku. Setidaknya, aku berharap dapat membuatnya kembali terbiasa denganku.


Paling tidak, ia mau bicara lagi padaku.


Jika pun tetap tak bisa, mungkinkah aku terlalu memaksa?


Mungkinkah aku yang terlalu mencintainya dengan keras kepala dan membuat idealismenya jatuh bebas?

Mungkinkah aku terlalu lemah dan perasa hingga membuatnya jengah?


atau, mungkin ia sudah benar-benar lelah dan tidah betah singgah.

Hingga tak ada jalan selain membuatku kembali terbiasa tanpanya. Terbiasa tanpa suara, senyuman dan tawanya. Terbiasa berpisah setelah sebelumnya terbiasa bersama.


Belajar melepaskan dirinya bukan sesuatu yang mudah. Bahkan wajahnya masih menjadi bias kenangan yang tak terlupakan. Meluruh runtuh bersama hujan yang kerap kali menjadi analogi kata rapuh. Harusnya sejak awal, kata “terbiasa” tak bisa benar-benar mengikatnya untuk terus menggenggam tanganku melewat batas garis waktu. Harusnya aku tak mengemis seperti pesimis dan membuatnya menatapku tragis.


Karena mulai hari ini, dia adalah sunyi yang tak ingin kucari,

bukan pula rindu, yang ingin kutemu.


Percayalah, aku juga akan terbiasa menjauh.  



 

C   O   L   L   E   G   E


Rabu, 08 Desember 2021

Aku Berdiri di Seberangmu dalam Waktu yang Berbeda

 



Langit pagi hari di bulan Maret.


Mendung masih bertahan untuk terus menggantung, sejak kakiku menjejak pelataran stasiun Lempuyangan pukul 06.00 waktu setempat. Angin yang berhembus sesekali membawa uap air berlebih yang membuat kelembaban kota makin tinggi. Riuh rendah penumpang yang berdesakan keluar masuk, suara bel kereta, tangisan perpisahan dan pertemuan semuanya tumpah pagi ini.

sedangkan aku, masih tetap tegak berdiri sementara gerbong keretaku sudah menjauh pergi.


Mataku terkunci pada deretan kursi tunggu penumpang yang terlihat kosong, hingga seorang wanita berpakaian formal duduk disana, seorang bapak tua berkacamata kuno membaca koran dan seorang gadis muda yang sedang serius menatap layar smartphone. Lalu banyak orang lagi yang akhirnya duduk di sana untuk menunggu kereta. Aku tak sempat mengamati bagaimana morfologi orang-orang abstrak itu, fokusku beranjak pergi. Meninggalkan kenyataan, bertarung dalam pikiran lalu memilih untuk bernostalgia sebentar.


Aku masih ingat.


Tepat di deretan kursi itu, seseorang pernah duduk disana dengan penampilan paling berantakan yang pernah kulihat seumur hidupku. Nafasnya naik turun dan matanya berair, kantung matanya menghitam pekat. Ia menatapku tajam, yang kala itu dikerubuti teman-temanku yang mengantarkan kepergianku ke Jakarta. Jujur, aku cukup terperangah dengan kehadirannya setelah semua yang terjadi. Kedua tangannya memeluk sebuah kotak kaca yang tak perlu membuatku berpikir dua kali untuk tahu itu adalah koleksi serangga yang kami kumpulkan. Yang telah lama kami lupakan atau hanya aku saja yang pura-pura melupakannya.


Aku memang acuh padanya saat itu, aku menatapnya sesekali dengan terus tertawa bersama teman-temanku. Ia harus terbiasa, tanpa aku. Atau malah aku, yang harus terbiasa tanpa dia. Mungkin kami yang harus terbiasa, untuk tidak lagi bersama. Tapi ia tak juga beranjak, matanya pasti merah karena terlalu banyak menangis, beberapa orang di sekelilingnya menatapnya dengan tatapan yang membuatku ingin menempelengnya satu-satu. Dia bukan manusia yang harus ditatap serendah itu.


Dia ...


Celotehan dan tawa teman-temanku seolah menguap begitu saja ketika ia kembali menatapku dan tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. Ia memilih meletakkan kotak itu di kursi tempatnya duduk lalu berbalik pergi. Musim kemarau yang kala itu mengantarkan kepergianku dari Yogyakarta terasa lebih panas dari biasanya, apalagi setelah dia meninggalkanku waktu itu, aku jauh lebih memilih pergi tanpa mengambil kotak kaca yang dibawanya. Sudah selayaknya kenangan seperti itu dibuang saja. Lagipula, aku tidak lagi ingin memberinya harapan yang memang tidak pernah ada. Aku punya banyak mimpi, cita-cita, harapan dan tentunya cinta yang berbeda dengannya, waktu itu ...


Tapi kini, aku ingin bertemu lagi dengannya.


Aku ingin menemaninya menunggu transjogja saat kakak laki-lakinya tak datang menjemput. Aku ingin mengajaknya berburu serangga untuk koleksi terbaru kami dan juga bahan penelitanku nanti. Aku ingin mengajaknya makan di angkringan sambil bertukar cerita tentang kegilaannya pada ilmu tanah dan pengelolaan lahan, juga kegilaanku pada hama, penyakit, gulma dan segala yang berhubungan dengan proteksi tanaman.

Aku tidak peduli tentang bagaimana kisah kami sebelumnya. Aku tidak akan lagi peduli pada apa reaksinya padaku nanti. Dia boleh memukuliku, menamparku bolak-balik, menempelengku hingga salah urat atau apapun.


Dia boleh melakukan apapun,


Menyadari betapa egoisnya aku kala itu, aku akan menerima balasanku hari ini. Begitu langkah kakiku sudah menjejak tanah berpasir, di tepi jalan raya dengan langit yang masih berwarna abu-abu gelap. Aku sudah siap memperbaiki semuanya, biar dikata se-terlambat apapun, aku tidak pernah sekali pun membencinya seperti yang aku katakan padanya kala itu. Aku hanya tidak ingin menyakitinya dengan menggantung harapannya yang setinggi lemari perpustakaan fakultas yang harus membuatnya melompat-lompat demi mendapatkan buku karangan Gardner soal Fisiologi Tanaman, ah ya...aku ingat, betapa bencinya ia pada mata kuliah satu itu,

Aku tersenyum tipis, lalu cepat-cepat menundukkan separuh badanku supaya bisa masuk ke dalam angkringan yang beratap terpal, dijaga oleh seorang bapak tua yang merokok sambil menatapku tulus, senyumnya lebar dengan beberapa giginya yang ompong dan menghitam.


“Ngunjuk menapa mas?” tanyanya.

“Teh anget, pak.” Jawabku, membuatnya lekas bergerak dan menyajikan segelas besar teh hangat di depanku, lalu kembali merokok. Menatap pada lalu lalang kendaraan di sekitar  stasiun pagi-pagi begini, sedangkan aku lebih tertarik mengamati interior dalam angkringannya.


Dulu ketika aku masih bersamanya, dia akan mengoceh panjang lebar soal assisten praktikumnya yang menyebalkan, tugas-tugas mendadak dari dosen yang jarang masuk kelas sampai gosip kedekatan teman sekelasnya. Hampir tak ada yang luput ia ceritakan padaku, kala itu ...

“Datang dari mana mas?” tanya bapak itu lagi, sebatang rokoknya sudah habis terbakar dan kini ia melinting kertas rokok lagi. Aku tersenyum, “Jakarta, pak.” jawabku, bapak itu manggut-manggut saja. 

Lama kami terdiam, bapak itu sibuk dengan rokoknya dan aku sibuk mengamati kepul asap dari ujung batang yang terbakar. Yah, sekali lagi aku masih ingat, hari ketika malam puncak perayaan ulang tahun fakultas kala itu, aku menyepi sebentar untuk merokok dan dia datang merecokiku dengan cerita-ceritanya yang lagi-lagi membuatku terbungkam. Aku suka mendengar suaranya, mendengar keluh kesahnya sebagai panitia acara ulang tahun fakultas, mendengar celotehannya yang dibumbui analogi ngawur, membuatku tertawa sampai terbatuk-batuk.


Dia menatapku dengan lirikan tajam, lalu mengatakan padaku bahwa, ‘jika aku ingin mati, aku tidak boleh mengajaknya. Jadi, jangan merokok di depannya kecuali ingin membunuhnya perlahan-lahan’. Ia pergi setelahnya, dengan berlari seperti anak-anak kala seorang perempuan lain memanggilnya. Sehari setelah itu, aku paham, dia menderita asma yang cukup sensitif terhadap debu dan asap. Bahkan mulai saat itu, tiba-tiba saja aku tak lagi merokok dengan dalih, pengen ngirit, pengen sehat atau pengen lainnya. Yang membuat beberapa temanku mengatakan aku sudah menjelma menjadi seorang budak cinta.


“Mas?”


Aku mendongakkan kepala, menatap bapak tua itu lagi yang sedang mengulum senyum. “Dua ribu lima ratus rupiah, mas. Saya mau pulang mas, mau tutup juga.” imbuhnya, aku tersentak kaget dan mengulurkan uang lima ribuan, selepas menenggak teh hangat cepat-cepat lalu menerima kembalian. Aku melangkah keluar dari tenda angkringan, meninggalkan angan-angan masa laluku disana. Biarkan saja mengendap bersama ampas teh di dasar gelas, lagipula sekarang aku lebih tertarik membuat kisah baru lagi dengannya untuk masa depan.


Melupakan segala kebodohanku yang sok idealis kala itu.


Aku datang ingin menemui bumiku lagi.

Bumi yang membawa sebagian besar jiwaku. Gadis dengan senyum secerah matahari pukul 12:00.


Oh, namanya Eartha.


Eartha Sastra.

 



C   O   L   L   E   G   E

Senin, 01 Maret 2021

Rumah Singgah dan Aroma Kematian

Lokasi dirahasiakan, waktu 2021



Catatan 1 : Februari 2021


“Saya melihat wajah tuanya di balik jendela kusam sedang menyembunyikan raut penasaran dengan mata segelap malam yang mengerikan...”

“Saya berjalan menghampirinya sebelum ia memilih hilang, tidak mau bicara dan terus menatap kami dari kejauhan. Sesekali mengintip dari balik pintu bahkan terkadang menyembulkan kepala di sekat langit-langit rumah...”

“Aromanya unik, nyaris sama seperti “dia” yang dulu sempat “dipulangkan”...”


“Energi kematiannya kuat, namun bukannya terasa jahat, saya lebih merasakan kesepian dan kesendirian dengan warna abu-abu yang menyelimuti dipan tua di belakang rumah”

“Juga pintu itu. Pintu di dekat dapur yang tidak boleh sembarang dibuka.”


***


Catatan 2: Maret 2021


Ini adalah salah satu jurnal yang saya publikasikan secara utuh. Merangkum tentang rumah itu, kisah-kisah yang menjadi latar belakangnya, dua sosok dengan eksistensi paling kuat dan pengalaman saya bertemu dengan dua manusia lain dengan kondisi yang sama.


Indigo,

yang tidak menyenangkan,

yang selalu punya pantangan,

dimana seumur hidup diintai kecemasan.


Karena kalau saja menjadi indigo itu mudah, saya tidak mungkin mendatangi dukun-dukun untuk menutup mata batin di pertengahan masa SMA. Kalau saja menjadi indigo itu tidak menyakitkan, saya akan bertahan dan tidak nyaris gila akibat aroma itu, luka-luka itu dan “dia” yang kini sudah “dipulangkan”.

Jurnal ekspedisi merah mulai ditulis sejak saya percaya pada “orang pintar” kepercayaan ibuku kalau “dia” sudah dipulangkan. Tidak ada lagi sosok wanita tua berbau kapur sirih yang mengintai di balik punggung saya juga gerombolan bocah-bocah pucat yang mengaku sebagai tetangga sebelah rumah. Tidak ada lagi bau-bau menyengat ataupun tarikan kuat yang menyentak kaki saya setiap malamnya.


Tidak ada lagi,


Kehidupan saya mulai berangsur tenang, meski wanita tua itu terkadang masih mengikuti saya hingga hari ini.


Tumbas nopo nduk? [Beli apa nak?]”

Saya tersentak, seorang nenek tua beruban melongok dari jendela warung kecil itu sambil mengulas senyum.


Bau kapur sirih yang menyengat.


Saya tersenyum kaku, “Beli garam, nek.”,


Njenengan kalih rencang-rencang sios tilem nten dalem e mbah Jarwo, nduk? [Kamu dan teman-temanmu jadi tidur di rumah mbah Jarwo, nak?]” tanyanya buru-buru sambil menyerahkan kembalian.

Saya mengangguk, “Ngati-ati yo, nduk. Yen wonten nopo-nopo, njenengan tilem nten dalem e kulo mawon. [Hati-hati ya nak. Kalau ada apa-apa, kamu tidur di rumah saya saja.]” Imbuhnya.


Sejak malam pertama kami disuruh tinggal di rumah itu oleh panitia, saya tidak menyukainya. Nyaris seluruh warga desa bertanya dengan ekspresi terkejut yang sama dengan si nenek pemilik warung kecil dekat pos ronda, bahkan meminta kami tinggal di rumah mereka saja. Katanya, anak perempuan paling tidak boleh masuk bahkan tinggal disana.


Katanya, anak perempuan yang tinggal disana bakal kesurupan dan diganggu.


Apalagi saya memiliki kisah tidak menyenangkan yang berhubungan dengan sosok-sosok tua, terutama nenek-nenek. Aroma kapur sirihnya yang kuat, sorot mata tuanya yang kadang berubah menghitam, langkahnya yang terpatah-patah, juga genggaman tangannya yang dingin. Saya tidak bisa mengatasinya seperti ketika saya bertemu sosok dalam perwujudan yang lain. Tubuh saya kaku, mata saya terpaku, dalam ketakutan saya membiarkan nenek tua beraroma kapur sirih itu mengusap kepala saya setiap malam.


Namun, rumah yang kami tinggali adalah milik si nenek tua bermata hitam.

Tidak ada aroma yang khas.


Hanya terkadang kemunculannya ditandai dengan bau tanah yang basah atau hembusan angin yang lembab. Ia berada di belakang tubuh teman saya dalam waktu yang lama bahkan ikut pergi dengannya saat ia pergi ke kota untuk membeli barang untuk program kerja kami. Kulitnya pucat, bibirnya tipis, seluruh matanya hitam, seperti bolong. Saya akan menjauh beberapa meter saat ia berada begitu dekat, meski saya tahu kalau ia terkadang berada di belakang tubuh saya juga.

Ia tidak mau bicara. Eksistensinya nyata, sesekali kami bahkan bertemu pandang saat ia mengintip lewat langit-langit atau dari balik daun pintu. Namun, ia hanya diam. Saya tidak tahu bagaimana ekspresinya. Apakah ia marah? Apakah ia menerima keberadaan kami dan juga anak laki-laki yang berbicara sekehendak hati? Saya berulang kali hendak bertanya, mengabaikan ragu akibat kekhawatiran penduduk desa yang terdengar sampai ke telinga saya, karena toh kami aman-aman saja.


Namun, ia tetap diam.


Satu minggu tinggal disana cukup membuat saya memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi tempat atau bahkan desa ini lagi. Program kerja kami selama social project dalam rangka open recruitment komunitas KKN 3 T berjalan dengan baik. Meskipun rasanya tubuh saya mau hancur karena harus menjaga anak-anak perempuan dan sepetak ruangan tempat kami tidur dengan taburan garam di setiap sudutnya. Berharap, setidaknya “pemilik rumah” tidak mengetuk pintu atau menyembulkan kepalanya di sekat dinding dengan atap.

Setidaknya, kami [perempuan] aman.

Rumah itu kosong dan selalu dijadikan rumah singgah, namun bukan berarti tidak ada umah kosong lain di desa tersebut yang juga dimanfaatkan untuk hal serupa. Rumah singgah untuk pendatang, penelitian gabungan para akademisi hingga rumah untuk anak-anak KKN (Kuliah Kerja Nyata) tersedia lebih dari satu.


Pertanyannya, mengapa kami harus tinggal disana?


Rumah singgah yang membuat saya membuka mata setiap tengah malam, menunggu paling tidak sampai salah satu dari anggota kami yang laki-laki pulang dari ronda malam agar saya bisa bersembunyi di kamar.

Namun, mereka tidak datang cepat seperti yang saya harapkan. Salah satu dari mereka memang menyuruh saya menghubunginya jika terjadi apa-apa, namun ketakutan saya bukan alasan yang tepat untuk menghubunginya setiap saat. Aroma kematian dari rumah itu begitu kuat menguar dari pintu di sebelah dapur dan dipan tua di ruangan belakang. Tidak terkesan jahat, namun tetap saja mengerikan. Aroma tanah yang basah dan angin yang lembab, juga noda-noda rembesan air di dinding adalah corak-corak abstrak yang tidak bisa terlupakan. Kenangan-kenangan tengah malam yang tidak bisa diceritakan, suara langkah kaki, cekalan tangan yang menarikku masuk ke kamar mandi di belakang rumah hingga tatapan tajam yang mengarah padaku dari balik jendela.


Tidak ada yang menyenangkan.


Jurnal ini selesai ditulis dengan beragam pertanyaan dan kejadian-kejadian yang tidak bisa dituliskan secara terperinci. Sosok hitam itu masih berkeliaran saat kami melewatinya menuju salah satu tempat wisata yang berada di kabupaten yang sama dengan desa tersebut. Rumah itu masih difungsikan sebagai rumah singgah yang selalu disebut dengan akhiran “milik mbah Jarwo [nama disamarkan]” ketika jurnal ini saya publikasikan hari ini.


Keterangan    : Jurnal I, Ekspedisi Merah, 2021

Publikasi        : 01 Maret 2021

Danau

  Lokasi dirahasiakan, Waktu : Tahun 2014 Catatan 1        : Agustus 2014 Hari ini ada pengumuman lagi dari speaker masjid yang terdenga...