Kamis, 27 Juli 2023

Jendela dekat Lemari di Kamar Ibu

 Lokasi dirahasiakan, waktu : tahun 2008





Catatan 1 : Juli 2023


Ini adalah jurnal kedua yang saya publikasikan secara utuh untuk dibagikan kepada banyak orang. Waktu itu saya masih berusia kurang lebih 8 tahun dengan ingatan yang samar-samar saya tulis kembali di usia 23 tahun. Saya tidak menyukai kamar ibu saya, terutama ketika ranjang berkelambu kami masih diletakkan di timur jendela kecil yang berdebu itu. Jendela kaca berukuran kurang dari 1 x 1 m itu jarang dibuka, sangat jarang dibuka sampai engselnya mengelupas dan berkarat.


Di dekatnya ada meja kayu reot tempat ibu meletakkan kosmetik, sisir, kaca kecil antik berbentuk persegi panjang, dan setumpuk buku partai kecil yang mirip sampah. Mungkin itu cara kampanye waktu itu, kami memiliki buku kecil berisi nama-nama caleg itu berserakan dimana-mana. Di bawah meja ada rak kecil tempat meletakkan sepatu kami, di sebelahnya ada lemari tua dengan dua pintu yang masing-masingnya berhias kaca berukuran 60 x 40 cm.


Saya tidak menyukai ruangan ini.


Saya memilih tidur di kamar yang lain sejak kecil, entah di usia berapa saya mulai tidak menyukainya. Kamar ini terang, tidak se-gelap kamar kakek dan nenek saya. Apalagi jika gorden jendela itu dibuka, lebih terang lagi, dan saya tidak menyukainya. Setiap habis mandi sore saya sering memilih diam berdiri di sana, menatap ke luar jendela yang melukiskan pemandangan senja berwarna semerah darah.

Jendela itu, pernah menunjukkan sesuatu yang sampai hari ini masih saya ingat. Waktu itu siang hari, saya mempunyai jadwal tetap untuk tidur siang dan ditinggalkan sendirian. Di kamar itu, bersembunyi di dalam kelambu berwarna merah muda pucat sambil pura-pura menutup mata mengelabui ibu. Setelah ibu pergi, mata saya terbuka, saya merogoh ke bawah bantal tempat menyembunyikan lembaran majalah tua yang  saya dapatkan dari dalam bilik lemari usang di kamar ibu.


Saya suka membaca, tidak ada yang bisa mendistraksi kegiatan saya, kecuali, satu.


Hari itu, musim kemarau, sekitar bulan Agustus, di tanggal yang tidak lagi saya ingat. Angin musim kering melewati celah-celah lubang angin yang menyingkap gorden jendela. Saya melihatnya disana, nenek tua itu berdiri di luar jendela. Itu bukan nenek saya, satu kali pun seumur hidup saya, nenek tidak pernah mengurai rambutnya yang berombak itu. Saya mungkin salah melihatnya sampai jendela itu diketuk dari luar, saya tidak mau melihatnya.


Sejauh yang saya tahu sampai saat ini, suara ketukan yang berasal dari ruang yang berseberangan dengan kita adalah sinyal. Suara ketukan ritmis itu menarik saya dari kenyataan seperti mimpi di siang hari, saya melupakan apa yang saya baca sebelumnya. Ini menarik, tetapi menakutkan, bahkan di siang hari, jendela itu mengirimkan teror untuk pertama kalinya yang dapat saya ingat.


Suaranya hilang, saya melompat dari ranjang yang tinggi itu untuk mengintip. Berharap menemukan sesuatu yang menarik, sesuatu yang menyebabkan jantung saya berdetak lebih cepat daripada saat ini.


Dia, masih disana.


Menatap ke arah selatan, rambutnya putih berkilau karena minyak dan tergerai lurus entah seberapa. Saya hanya mampu melihat kepalanya, baunya seperti minyak rambut lama yang sering dipakai nenek saya, sangat menyengat. Tak lama kemudian tercium bau minyak tanah pekat, bersama dengan hembusan angin yang menerbangkan gorden jendela.

Saya masih menatap kepalanya, anginnya berhenti dan gorden itu menutup jendela. Saya merasa kaki saya ditepuk dua kali, ada tangan kurus dingin yang mencekal pergelangannya. Saya terkejut sampai nyaris berteriak, sebelum terbangun. Semuanya seperti mimpi, saya melihat ibu saya sedang tersenyum, mengatakan saya harus bangun untuk mandi sore.


Saya kebingungan, semuanya lebih terasa seperti realita jika dinyatakan sebagai mimpi. Semuanya terproyeksi sampai angin sore yang berhembus menerbangkan gorden jendela masih membawa bau yang sama. Bau minyak rambut milik nenek dengan aroma minyak tanah dan kayu bakar yang menyengat. Saya tidak menyukainya.


Ini jurnal kedua yang menceritakan pengalaman misteri saya di bawah usia 10 tahun.


Saat saya masih belum benar-benar memisahkan realita dan fatamorgana.

Saat saya masih bisa mengenal mereka yang mengintip dari pintu kamar, meminta saya buru-buru mandi sebelum ibu marah. Daripada takut ibu marah, mungkin mereka jauh lebih takut tak bisa buru-buru menonton televisi.


Keterangan    : Jurnal II, Ekspedisi Merah, 2008

Publikasi        : 27 Juli 2023

Senin, 20 Desember 2021

Sebatas Terbiasa

 



“Heh, nyontek referensi laporan praktikummu dong! Sumpah, nggak mudeng aku!”


Aku mengangkat kepala begitu mendengar suaranya bergema. Ia berdiri di depanku dengan kedua tangan bertumpu di meja kayu. Tubuhnya yang condong ke depan membuatku menundukkan kepala dalam-dalam dan memilih kembali menulis pembahasan hasil praktikum. Lagipula memang bukan aku yang ia tanya. Bukan aku lagi yang dibutuhkannya. Bukan aku yang terlihat di matanya,


“Aku belum buat, Za. Jangan gangguin dong, tanya yang lain saja sana lho!” usir sahabatku yang kini menatapnya kesal. Dia berdecak sambil mengumpat lalu meninggalkan kami tanpa bicara sepatah katapun. Melihatku saja rasanya tidak sudi, apalagi bicara. Aku mengulas senyum miris pada diriku sendiri saat melihatnya kembali merengek meminta referensi pembahasan pada sekelompok temanku yang lain.


Padahal dulu, dulu sekali, sebelum ia menghapuskan keberadaanku. Ia begitu dekat denganku. Ia begitu bergantung padaku. Ia membuatku benar-benar diinginkan dan dianggap sekadar “ada”. Tidak sekali atau dua kali ia akan meminta catatanku sebelum ujian, meminjam buku referensi yang kurekomendasikan atau sekadar berkeliling perpustakaan setiap seminggu sekali bersama.


Jika ada aku, maka ada dia.

Terdengar klise tapi memang begitu adanya. Sesuatu yang sederhana dan membuatku terbiasa. Terbiasa bersamanya. Terbiasa mendengar celetukan ngawurnya ditengah mata kuliah. Terbiasa melihat aksi-aksi ajaibnya yang terkesan usil dan jahil. Terbiasa melihatnya menungguku selesai praktikum untuk pergi mencari referensi bersama. Semua tentangnya membuatku “terlalu terbiasa” dan tak terima ketika tiba-tiba ia menjauh dan menjadi acuh.


Mengapa dia tiba-tiba memilih untuk tak lagi bicara padaku?

Mengapa ia seolah membuat hubungannya denganku bagai air dan api yang tak pernah menjadi senyawa?


Padahal tanpa bicara, harusnya ia sudah tahu bahwa aku dan dia sudah terlalu terbiasa bersama dan canggung ketika tiba-tiba berpisah. Untuk tiba-tiba tak lagi saling mengenal, layaknya orang asing yang tak sengaja bertemu di lampu merah Malioboro.


Jika bisa bertanya, aku hanya ingin tahu alasannya. Aku ingin tahu, mengapa lama-lama kami bagaikan timur dan barat yang tak pernah searah? Mengapa kami menjadi begitu berbeda dan tak lagi sama? Arah, pandangan, pemikiran bahkan obrolan sambil lalu pun tak lagi sejalur. Ia dan aku bukan lagi jiwa yang separuhnya diikat benang merah sebuah mitos cinta. Kami tidak lebih dari dua insan yang kehilangan rasa dan bergelut dengan praduga. Berakhir pada sebuah kesalahpahaman yang awalnya saja tak kutahu berasal darimana.


Apa aku pernah menyakiti hatinya?


Apa aku pernah salah bicara padanya?


Apa aku pernah mengecewakannya?


Apa aku pernah menolak rengekannya soal referensi praktikum?


Sumpah, seingatku tidak pernah!



Tapi ia tetap terbungkam dan seolah memaksaku untuk mengaku kalah dan salah. Tapi tak apa, aku terima. Setidaknya, aku berharap ia tak lagi mengibarkan bendera perang padaku. Setidaknya, aku berharap dapat membuatnya kembali terbiasa denganku.


Paling tidak, ia mau bicara lagi padaku.


Jika pun tetap tak bisa, mungkinkah aku terlalu memaksa?


Mungkinkah aku yang terlalu mencintainya dengan keras kepala dan membuat idealismenya jatuh bebas?

Mungkinkah aku terlalu lemah dan perasa hingga membuatnya jengah?


atau, mungkin ia sudah benar-benar lelah dan tidah betah singgah.

Hingga tak ada jalan selain membuatku kembali terbiasa tanpanya. Terbiasa tanpa suara, senyuman dan tawanya. Terbiasa berpisah setelah sebelumnya terbiasa bersama.


Belajar melepaskan dirinya bukan sesuatu yang mudah. Bahkan wajahnya masih menjadi bias kenangan yang tak terlupakan. Meluruh runtuh bersama hujan yang kerap kali menjadi analogi kata rapuh. Harusnya sejak awal, kata “terbiasa” tak bisa benar-benar mengikatnya untuk terus menggenggam tanganku melewat batas garis waktu. Harusnya aku tak mengemis seperti pesimis dan membuatnya menatapku tragis.


Karena mulai hari ini, dia adalah sunyi yang tak ingin kucari,

bukan pula rindu, yang ingin kutemu.


Percayalah, aku juga akan terbiasa menjauh.  



 

C   O   L   L   E   G   E


Rabu, 08 Desember 2021

Aku Berdiri di Seberangmu dalam Waktu yang Berbeda

 



Langit pagi hari di bulan Maret.


Mendung masih bertahan untuk terus menggantung, sejak kakiku menjejak pelataran stasiun Lempuyangan pukul 06.00 waktu setempat. Angin yang berhembus sesekali membawa uap air berlebih yang membuat kelembaban kota makin tinggi. Riuh rendah penumpang yang berdesakan keluar masuk, suara bel kereta, tangisan perpisahan dan pertemuan semuanya tumpah pagi ini.

sedangkan aku, masih tetap tegak berdiri sementara gerbong keretaku sudah menjauh pergi.


Mataku terkunci pada deretan kursi tunggu penumpang yang terlihat kosong, hingga seorang wanita berpakaian formal duduk disana, seorang bapak tua berkacamata kuno membaca koran dan seorang gadis muda yang sedang serius menatap layar smartphone. Lalu banyak orang lagi yang akhirnya duduk di sana untuk menunggu kereta. Aku tak sempat mengamati bagaimana morfologi orang-orang abstrak itu, fokusku beranjak pergi. Meninggalkan kenyataan, bertarung dalam pikiran lalu memilih untuk bernostalgia sebentar.


Aku masih ingat.


Tepat di deretan kursi itu, seseorang pernah duduk disana dengan penampilan paling berantakan yang pernah kulihat seumur hidupku. Nafasnya naik turun dan matanya berair, kantung matanya menghitam pekat. Ia menatapku tajam, yang kala itu dikerubuti teman-temanku yang mengantarkan kepergianku ke Jakarta. Jujur, aku cukup terperangah dengan kehadirannya setelah semua yang terjadi. Kedua tangannya memeluk sebuah kotak kaca yang tak perlu membuatku berpikir dua kali untuk tahu itu adalah koleksi serangga yang kami kumpulkan. Yang telah lama kami lupakan atau hanya aku saja yang pura-pura melupakannya.


Aku memang acuh padanya saat itu, aku menatapnya sesekali dengan terus tertawa bersama teman-temanku. Ia harus terbiasa, tanpa aku. Atau malah aku, yang harus terbiasa tanpa dia. Mungkin kami yang harus terbiasa, untuk tidak lagi bersama. Tapi ia tak juga beranjak, matanya pasti merah karena terlalu banyak menangis, beberapa orang di sekelilingnya menatapnya dengan tatapan yang membuatku ingin menempelengnya satu-satu. Dia bukan manusia yang harus ditatap serendah itu.


Dia ...


Celotehan dan tawa teman-temanku seolah menguap begitu saja ketika ia kembali menatapku dan tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. Ia memilih meletakkan kotak itu di kursi tempatnya duduk lalu berbalik pergi. Musim kemarau yang kala itu mengantarkan kepergianku dari Yogyakarta terasa lebih panas dari biasanya, apalagi setelah dia meninggalkanku waktu itu, aku jauh lebih memilih pergi tanpa mengambil kotak kaca yang dibawanya. Sudah selayaknya kenangan seperti itu dibuang saja. Lagipula, aku tidak lagi ingin memberinya harapan yang memang tidak pernah ada. Aku punya banyak mimpi, cita-cita, harapan dan tentunya cinta yang berbeda dengannya, waktu itu ...


Tapi kini, aku ingin bertemu lagi dengannya.


Aku ingin menemaninya menunggu transjogja saat kakak laki-lakinya tak datang menjemput. Aku ingin mengajaknya berburu serangga untuk koleksi terbaru kami dan juga bahan penelitanku nanti. Aku ingin mengajaknya makan di angkringan sambil bertukar cerita tentang kegilaannya pada ilmu tanah dan pengelolaan lahan, juga kegilaanku pada hama, penyakit, gulma dan segala yang berhubungan dengan proteksi tanaman.

Aku tidak peduli tentang bagaimana kisah kami sebelumnya. Aku tidak akan lagi peduli pada apa reaksinya padaku nanti. Dia boleh memukuliku, menamparku bolak-balik, menempelengku hingga salah urat atau apapun.


Dia boleh melakukan apapun,


Menyadari betapa egoisnya aku kala itu, aku akan menerima balasanku hari ini. Begitu langkah kakiku sudah menjejak tanah berpasir, di tepi jalan raya dengan langit yang masih berwarna abu-abu gelap. Aku sudah siap memperbaiki semuanya, biar dikata se-terlambat apapun, aku tidak pernah sekali pun membencinya seperti yang aku katakan padanya kala itu. Aku hanya tidak ingin menyakitinya dengan menggantung harapannya yang setinggi lemari perpustakaan fakultas yang harus membuatnya melompat-lompat demi mendapatkan buku karangan Gardner soal Fisiologi Tanaman, ah ya...aku ingat, betapa bencinya ia pada mata kuliah satu itu,

Aku tersenyum tipis, lalu cepat-cepat menundukkan separuh badanku supaya bisa masuk ke dalam angkringan yang beratap terpal, dijaga oleh seorang bapak tua yang merokok sambil menatapku tulus, senyumnya lebar dengan beberapa giginya yang ompong dan menghitam.


“Ngunjuk menapa mas?” tanyanya.

“Teh anget, pak.” Jawabku, membuatnya lekas bergerak dan menyajikan segelas besar teh hangat di depanku, lalu kembali merokok. Menatap pada lalu lalang kendaraan di sekitar  stasiun pagi-pagi begini, sedangkan aku lebih tertarik mengamati interior dalam angkringannya.


Dulu ketika aku masih bersamanya, dia akan mengoceh panjang lebar soal assisten praktikumnya yang menyebalkan, tugas-tugas mendadak dari dosen yang jarang masuk kelas sampai gosip kedekatan teman sekelasnya. Hampir tak ada yang luput ia ceritakan padaku, kala itu ...

“Datang dari mana mas?” tanya bapak itu lagi, sebatang rokoknya sudah habis terbakar dan kini ia melinting kertas rokok lagi. Aku tersenyum, “Jakarta, pak.” jawabku, bapak itu manggut-manggut saja. 

Lama kami terdiam, bapak itu sibuk dengan rokoknya dan aku sibuk mengamati kepul asap dari ujung batang yang terbakar. Yah, sekali lagi aku masih ingat, hari ketika malam puncak perayaan ulang tahun fakultas kala itu, aku menyepi sebentar untuk merokok dan dia datang merecokiku dengan cerita-ceritanya yang lagi-lagi membuatku terbungkam. Aku suka mendengar suaranya, mendengar keluh kesahnya sebagai panitia acara ulang tahun fakultas, mendengar celotehannya yang dibumbui analogi ngawur, membuatku tertawa sampai terbatuk-batuk.


Dia menatapku dengan lirikan tajam, lalu mengatakan padaku bahwa, ‘jika aku ingin mati, aku tidak boleh mengajaknya. Jadi, jangan merokok di depannya kecuali ingin membunuhnya perlahan-lahan’. Ia pergi setelahnya, dengan berlari seperti anak-anak kala seorang perempuan lain memanggilnya. Sehari setelah itu, aku paham, dia menderita asma yang cukup sensitif terhadap debu dan asap. Bahkan mulai saat itu, tiba-tiba saja aku tak lagi merokok dengan dalih, pengen ngirit, pengen sehat atau pengen lainnya. Yang membuat beberapa temanku mengatakan aku sudah menjelma menjadi seorang budak cinta.


“Mas?”


Aku mendongakkan kepala, menatap bapak tua itu lagi yang sedang mengulum senyum. “Dua ribu lima ratus rupiah, mas. Saya mau pulang mas, mau tutup juga.” imbuhnya, aku tersentak kaget dan mengulurkan uang lima ribuan, selepas menenggak teh hangat cepat-cepat lalu menerima kembalian. Aku melangkah keluar dari tenda angkringan, meninggalkan angan-angan masa laluku disana. Biarkan saja mengendap bersama ampas teh di dasar gelas, lagipula sekarang aku lebih tertarik membuat kisah baru lagi dengannya untuk masa depan.


Melupakan segala kebodohanku yang sok idealis kala itu.


Aku datang ingin menemui bumiku lagi.

Bumi yang membawa sebagian besar jiwaku. Gadis dengan senyum secerah matahari pukul 12:00.


Oh, namanya Eartha.


Eartha Sastra.

 



C   O   L   L   E   G   E

Senin, 01 Maret 2021

Rumah Singgah dan Aroma Kematian

Lokasi dirahasiakan, waktu 2021



Catatan 1 : Februari 2021


“Saya melihat wajah tuanya di balik jendela kusam sedang menyembunyikan raut penasaran dengan mata segelap malam yang mengerikan...”

“Saya berjalan menghampirinya sebelum ia memilih hilang, tidak mau bicara dan terus menatap kami dari kejauhan. Sesekali mengintip dari balik pintu bahkan terkadang menyembulkan kepala di sekat langit-langit rumah...”

“Aromanya unik, nyaris sama seperti “dia” yang dulu sempat “dipulangkan”...”


“Energi kematiannya kuat, namun bukannya terasa jahat, saya lebih merasakan kesepian dan kesendirian dengan warna abu-abu yang menyelimuti dipan tua di belakang rumah”

“Juga pintu itu. Pintu di dekat dapur yang tidak boleh sembarang dibuka.”


***


Catatan 2: Maret 2021


Ini adalah salah satu jurnal yang saya publikasikan secara utuh. Merangkum tentang rumah itu, kisah-kisah yang menjadi latar belakangnya, dua sosok dengan eksistensi paling kuat dan pengalaman saya bertemu dengan dua manusia lain dengan kondisi yang sama.


Indigo,

yang tidak menyenangkan,

yang selalu punya pantangan,

dimana seumur hidup diintai kecemasan.


Karena kalau saja menjadi indigo itu mudah, saya tidak mungkin mendatangi dukun-dukun untuk menutup mata batin di pertengahan masa SMA. Kalau saja menjadi indigo itu tidak menyakitkan, saya akan bertahan dan tidak nyaris gila akibat aroma itu, luka-luka itu dan “dia” yang kini sudah “dipulangkan”.

Jurnal ekspedisi merah mulai ditulis sejak saya percaya pada “orang pintar” kepercayaan ibuku kalau “dia” sudah dipulangkan. Tidak ada lagi sosok wanita tua berbau kapur sirih yang mengintai di balik punggung saya juga gerombolan bocah-bocah pucat yang mengaku sebagai tetangga sebelah rumah. Tidak ada lagi bau-bau menyengat ataupun tarikan kuat yang menyentak kaki saya setiap malamnya.


Tidak ada lagi,


Kehidupan saya mulai berangsur tenang, meski wanita tua itu terkadang masih mengikuti saya hingga hari ini.


Tumbas nopo nduk? [Beli apa nak?]”

Saya tersentak, seorang nenek tua beruban melongok dari jendela warung kecil itu sambil mengulas senyum.


Bau kapur sirih yang menyengat.


Saya tersenyum kaku, “Beli garam, nek.”,


Njenengan kalih rencang-rencang sios tilem nten dalem e mbah Jarwo, nduk? [Kamu dan teman-temanmu jadi tidur di rumah mbah Jarwo, nak?]” tanyanya buru-buru sambil menyerahkan kembalian.

Saya mengangguk, “Ngati-ati yo, nduk. Yen wonten nopo-nopo, njenengan tilem nten dalem e kulo mawon. [Hati-hati ya nak. Kalau ada apa-apa, kamu tidur di rumah saya saja.]” Imbuhnya.


Sejak malam pertama kami disuruh tinggal di rumah itu oleh panitia, saya tidak menyukainya. Nyaris seluruh warga desa bertanya dengan ekspresi terkejut yang sama dengan si nenek pemilik warung kecil dekat pos ronda, bahkan meminta kami tinggal di rumah mereka saja. Katanya, anak perempuan paling tidak boleh masuk bahkan tinggal disana.


Katanya, anak perempuan yang tinggal disana bakal kesurupan dan diganggu.


Apalagi saya memiliki kisah tidak menyenangkan yang berhubungan dengan sosok-sosok tua, terutama nenek-nenek. Aroma kapur sirihnya yang kuat, sorot mata tuanya yang kadang berubah menghitam, langkahnya yang terpatah-patah, juga genggaman tangannya yang dingin. Saya tidak bisa mengatasinya seperti ketika saya bertemu sosok dalam perwujudan yang lain. Tubuh saya kaku, mata saya terpaku, dalam ketakutan saya membiarkan nenek tua beraroma kapur sirih itu mengusap kepala saya setiap malam.


Namun, rumah yang kami tinggali adalah milik si nenek tua bermata hitam.

Tidak ada aroma yang khas.


Hanya terkadang kemunculannya ditandai dengan bau tanah yang basah atau hembusan angin yang lembab. Ia berada di belakang tubuh teman saya dalam waktu yang lama bahkan ikut pergi dengannya saat ia pergi ke kota untuk membeli barang untuk program kerja kami. Kulitnya pucat, bibirnya tipis, seluruh matanya hitam, seperti bolong. Saya akan menjauh beberapa meter saat ia berada begitu dekat, meski saya tahu kalau ia terkadang berada di belakang tubuh saya juga.

Ia tidak mau bicara. Eksistensinya nyata, sesekali kami bahkan bertemu pandang saat ia mengintip lewat langit-langit atau dari balik daun pintu. Namun, ia hanya diam. Saya tidak tahu bagaimana ekspresinya. Apakah ia marah? Apakah ia menerima keberadaan kami dan juga anak laki-laki yang berbicara sekehendak hati? Saya berulang kali hendak bertanya, mengabaikan ragu akibat kekhawatiran penduduk desa yang terdengar sampai ke telinga saya, karena toh kami aman-aman saja.


Namun, ia tetap diam.


Satu minggu tinggal disana cukup membuat saya memutuskan untuk tidak lagi mengunjungi tempat atau bahkan desa ini lagi. Program kerja kami selama social project dalam rangka open recruitment komunitas KKN 3 T berjalan dengan baik. Meskipun rasanya tubuh saya mau hancur karena harus menjaga anak-anak perempuan dan sepetak ruangan tempat kami tidur dengan taburan garam di setiap sudutnya. Berharap, setidaknya “pemilik rumah” tidak mengetuk pintu atau menyembulkan kepalanya di sekat dinding dengan atap.

Setidaknya, kami [perempuan] aman.

Rumah itu kosong dan selalu dijadikan rumah singgah, namun bukan berarti tidak ada umah kosong lain di desa tersebut yang juga dimanfaatkan untuk hal serupa. Rumah singgah untuk pendatang, penelitian gabungan para akademisi hingga rumah untuk anak-anak KKN (Kuliah Kerja Nyata) tersedia lebih dari satu.


Pertanyannya, mengapa kami harus tinggal disana?


Rumah singgah yang membuat saya membuka mata setiap tengah malam, menunggu paling tidak sampai salah satu dari anggota kami yang laki-laki pulang dari ronda malam agar saya bisa bersembunyi di kamar.

Namun, mereka tidak datang cepat seperti yang saya harapkan. Salah satu dari mereka memang menyuruh saya menghubunginya jika terjadi apa-apa, namun ketakutan saya bukan alasan yang tepat untuk menghubunginya setiap saat. Aroma kematian dari rumah itu begitu kuat menguar dari pintu di sebelah dapur dan dipan tua di ruangan belakang. Tidak terkesan jahat, namun tetap saja mengerikan. Aroma tanah yang basah dan angin yang lembab, juga noda-noda rembesan air di dinding adalah corak-corak abstrak yang tidak bisa terlupakan. Kenangan-kenangan tengah malam yang tidak bisa diceritakan, suara langkah kaki, cekalan tangan yang menarikku masuk ke kamar mandi di belakang rumah hingga tatapan tajam yang mengarah padaku dari balik jendela.


Tidak ada yang menyenangkan.


Jurnal ini selesai ditulis dengan beragam pertanyaan dan kejadian-kejadian yang tidak bisa dituliskan secara terperinci. Sosok hitam itu masih berkeliaran saat kami melewatinya menuju salah satu tempat wisata yang berada di kabupaten yang sama dengan desa tersebut. Rumah itu masih difungsikan sebagai rumah singgah yang selalu disebut dengan akhiran “milik mbah Jarwo [nama disamarkan]” ketika jurnal ini saya publikasikan hari ini.


Keterangan    : Jurnal I, Ekspedisi Merah, 2021

Publikasi        : 01 Maret 2021

Selasa, 19 Mei 2020

Benang Merah yang Tidak Terpasang dengan Benar




Ada yang mengatakan jika perasaan benci dan cinta itu nyaris tak ada bedanya.


Sesuatu yang pasti seperti sains atau abstrak seperti aliran seni, tak ada yang bisa menjelaskannya. Seperti sebuah paragraf rumpang dalam soal ulangan harian anak sekolah, cinta dan benci begitu bias maknanya. Bisa jadi iya, bisa pula tidak. Pemahaman maknanya sulit dicerna, sulit dijabarkan dan sulit dijelaskan. Karena katanya jika takdir menggariskan cinta melalui benang merah yang terpasang di jari kelingking manusia, maka benci bisa jadi adalah indikasi benang yang tidak terpasang dengan benar.


Jadi, meskipun takdirnya tertulis denganku, apa jadinya kalau benang merah kami tak terpasang dengan benar?


Apakah kisah fantasi kami hanya akan jadi angan-angan yang mudah terbawa bersama hembusan angin? Apakah senyuman yang kami lemparkan satu sama lain hanya bias nostalgia yang tidak akan terjadi lagi di masa depan? Apakah percakapan kami di lorong gedung kampus itu hanyalah dialog kosong tidak berarti saat kami mulai saling melewati?


“Udah baikkan Ra sama Paskal?”


Aku menggeleng, melirik kearahnya yang sedang mempersiapkan presentasi di depan kelas bersama teman sekelompoknya. Memangnya apa yang perlu diperbaiki dari kami? Hubungan pertemanan kami tidak sedekat itu untuk mengucapkan kata-kata sensitif seperti maaf dan terimakasih, yah... seperti teman sekelas dalam satu dua mata kuliah yang pernah saling menyapa.


Lalu apa?

Cara kami berkomunikasi juga masih normal, hanya saja ada rasa enggan untuk memulai percakapan sejak sore itu. Sejak kami saling melemparkan kalimat-kalimat kebencian dengan perasaan yang tidak menyenangkan.


Hingga hari ini,

“Baikkan lah Ra, kalian kan temenan.”

“Sejak kapan?”

“Halah... bilang enggak temenan tapi penting banget ya sampe ditanyain pulang jam berapa.”

“Diem, Na. Berisik!” tegurku saat presentasi siap dimulai.


Aku ingat, tadi pagi dia tiba-tiba berdiri di belakang punggungku saat kami hendak memasuki laboratorium yang berbeda untuk praktikum. Kupikir setelah kami sama-sama saling membenci sore itu, kami akan saling melewati untuk waktu yang lama. Kupikir setelah kami kembali disatukan dalam satu divisi yang merepotkan dalam kepanitiaan dan ia kembali memuntahkan keresahannya padaku, kami akan kembali saling membenci.


Tetapi aku ragu.


Kami tidak benar-benar saling membenci. Meskipun aku mengatakan dirinya menyebalkan dan ia percaya bahwa aku adalah manusia aneh yang merepotkan. Kami tidak benar-benar saling melewati meskipun kami berjalan melawan arah tanpa interaksi.


“Kamu pulang semalam?”

“Pulang lah, nginep dimana lagi?”

“Jam berapa?”

“Hmm... sebelas lewat, kenapa?”

Tidak ada jawaban.



Percakapan kami seperti mode simulasi.


“Mau nanya enggak? Udah kelar tuh presentasinya,”

Aku melirik terganggu, Hanna tidak pernah puas menggoda sekali dua kali tentang aku dan Paskal. Sekali pun kami tak pernah membuat moment romantis sampai-sampai dia harus bertingkah demikian.

“Kangen bilang, Ra. Itu mas Paskalnya kalau dianggurin diambil orang loh.”


Aku menganggukkan kepala dengan acuh, terlihat tidak peduli tapi aku mengetahuinya. Paskal punya pacar kok, adik tingkat kami, beda jurusan dan kebetulan kami satu unit kegiatan mahasiswa. Aku melihatnya menjemput setiap selesai rapat atau kumpul-kumpul tanpa sekali pun menyapaku, yah... memang seharusnya seperti itu bukan?


“Lupa, dia kan pacar orang. Kamu nggak cemburu Ra kalau Paskal pacaran?”


“Kupikir kalian bakal pacaran loh, seingetku dia sering banget nyariin kamu waktu semester satu. Bahkan inget nggak kalau tiap hari jumat dia selalu bawain kamu snack solat jumat dari masjid kampus?!”



Aku melirik terganggu dan siap-siap berdiri karena giliran presentasi kelompokku. Lirikan tajam untuk membungkam mulut Hanna yang tak berhenti berceloteh penuh nostalgia sewaktu kami masih mahasiswa baru. Mengabaikan Paskal yang melewati kursi kami tanpa menyapa atau menengokkan kepalanya, seolah-olah kami tidak sedang menyebutkan namanya.


Yah... Hanna hanya sedang bernostalgia.



Sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu sebagai sebuah cerita lama.


Tentang perasaan.


Tentang benang merah kami yang tidak terpasang dengan benar.

 

C   O   L   L   E   G   E

Rabu, 19 September 2018

Teman Sekelas

 



Mungkin waktu itu cuma kebetulan saja, saat kita berada di kelas yang sama, arah jalan pulang yang sama, humor yang sama dan berakhir menempati lembar buku tahunan yang sama.

 


Aku pikir semuanya akan selesai saat tokohnya berakhir menjadi toko pemeran pria pendamping atau apa yang sering disebut dengan second lead. Aku pikir kisahnya mungkin tidak akan sebanyak pemeran utama karena hanya memakan waktu satu tahun untuk benar-benar merasakannya.



Ah... mungkin kami cuma sekadar berkomunikasi.



Sebagai sesama manusia, bersosialisasi, menertawakan banyak hal yang sama, mengkhawatirkan bocoran kunci jawaban yang sama, mempelajari materi ulangan harian yang sama. Yang terkadang secara acak duduk satu bangku, mengendarai sepeda kayuh dengan jalur yang sama hingga tanpa sadar terus melakukannya sebagai bentuk kebiasaan. Habit yang wajar antar teman sekelas,


Ah... mungkin kami hanya mempunyai selera humor yang sama


Sebuah kebetulan yang menyenangkan, bukan?



“Ya, kenapa sih kamu selalu jalan kaki bawa helm?”


“Hmm... paginya aku bareng kakak kelas, XII MIPA 3.”


“Kalau bareng aku mau?”


Aku menggeleng, “Telat. Kamu siang, nanti dihukum lari keliling lapangan pake helm. Malu-maluin, kalo kamu kan enggak!”


“Dih, aku nawarin biar kita nggak cuma bareng pas pulang doang. Oh... atau nggak, kamu naik sepeda aja? Bisa kan?”


Aku mengangguk, “Bisa, sepedanya nggak ada. Beliin!”


Dia menempelang kepalaku, tidak keras. Lalu tertawa, sedetik kemudian entah siapa yang dia sapa di tempat parkir motor sepadat ini sambil melambaikan tangannya.


Teman sekelas kami atau bukan?


“Hoiiii!! Yok, duluan ajaaa!!! Gue nganterin Yaya pulang dulu, babi!”


Bukan.


Seorang laki-laki dengan rambut jabrik dan bertubuh gempal dengan motor modifikasi yang tidak beda jauh dengan miliknya hanya membalas dengan menganggukkan kepala. Aku mengenalnya, laki-laki itu adalah kakaknya yang kebetulan adalah kakak kelas kami. Anak kelas XI yang kebetulan pernah mendatangi kelas kami hanya untuk meminjam seragam olahraga.



“Ayo naik! Aku mau pergi habis ini,”


“Aku jalan, biasanya juga gitu.”


Dahinya berkerut tidak setuju lalu menggelengkan kepala, “Nanti ada orang gila lagi loh deket warnet situ, kamu nggak takut? Kemarin aja kamu balik lagi ke sekolah kan gara-gara ketakutan,”


Aku mengangguk cepat, “Aku takut orang gila. Jadi, ayo pulang.”



Dia tertawa, menarik tuas gasnya dan membiarkan motor modifikasi –rongsokan- ini keluar dari tempat parkir super padat. Melewati satpam dan beberapa teman yang kami kenal, menyapa sebentar dan motor –sialan- ini sedang menunjukkan eksistensinya yang super menganggu. Knalpotnya tidak standar dan suaranya bising minta ampun, sejenis suara knalpot yang mampu membuat orang-orang menengokkan kepala sambil mencibir. Belum lagi dengan pijakannya yang hanya ada satu, untuk pengendara, bukan penumpang.


Aku harus dengan puas menumpang sampai depan rumah dengan kaki terombang-ambing.



“Siang ini aku mau pake pijakan kakinya.”


“Lah aku? Masa kakiku ngambang sih Ya? Ngaco ah...”


“Tapi dudukku nggak enak, melorot. Kamu sih, motor bagus-bagus dipretelin.”


“Ini seni. Kamu bakalan tahu rasanya kalau kamu suka hal-hal kaya gini,”


“Pijakannya tetep aku yang pake.”


“Aku bakalan lepas setang kalo kamu tetep geser-geser kakiku di pijakan motor, Ya!”


“Tapi aku gamau pegangan sama kamu.”


“Tinggal pegangan doang, Yaya! Darma juga nggak bakalan ngeh kamu pegangan sama tukang ojek kaya aku.”


Darma.


Oh, anak laki-laki kelas bawah yang kebetulan mempunyai arah jalan pulang berbeda dengan kami. Seseorang yang kebetulan menempati posisi istimewa, jauh lebih agung daripada cowok yang waktu itu berupaya menendang kakiku dari pijakan motor. Mengoceh hal-hal yang tidak penting, mengeluh dengan serangkaian mata pelajaran yang membebankan pekerjaan rumah level iblis.


Lalu, menertawakannya.



“Ya! Yaaa... lihat nih, lihat!!! Aku lepas setang motornya.”


“Bego! Jangan ketawa, goblok. Itu pegang lagiii...”



Lagi-lagi kami jadi yang paling berisik. Di jalanan. Di dekat lampu merah perempatan sebelum pulang ke rumah. Perkara lepas setang dan rebutan pijakan kaki, mengundang tatapan aneh dari pengendara motor lainnya. Seorang cewek histeris berkepang dua dan cowok dengan helm fullface yang mengendarai sepeda motor modifikasi –rongsokan-. Mengumpat, mengobrol, tertawa dan kadang terdiam.



Menjelang pulang ke rumah, pukul 14.00 WIB.



C   L   A   S   S   I   C

Danau

  Lokasi dirahasiakan, Waktu : Tahun 2014 Catatan 1        : Agustus 2014 Hari ini ada pengumuman lagi dari speaker masjid yang terdenga...